0
  CONTACT US by WHATSAPP
18
Sep
Pekerjaan Sebagai Seorang Nelayan
Sep 18, 2016By Velasco Indonesia

Pekerjaan sebagai seorang nelayan banyak sekali dilakukan masyarakat pesisir. Nelayan merupakan mata pencaharian utama yang dilakoni oleh penduduk desa nagalawan. Kegiatan melaut dilakoni dengan peralatan melaut yang sangat sederhana dan masih sangat tradisional serta dengan bantuan pinjaman modal dari seorang toke, kemudian hasil yang didapatkan di jual dengan harga murah untuk menggantikan pinjaman. Apabila dibandingkan dengan harga penjualan toke, dengan segenap resiko di tanggung nelayan.

pekerjaan sebagai seorang nelayan

Pekerjaan sebagai seorang nelayan tidak hanya dilakukan oleh kepala keluarga ataupun yang disebut sebagai suami (ayah) tetapi anak – anak mereka juga ikut berperan dan membantu orangtuanya dalam melaut meskipun pengetahuan yang mereka miliki masih sangat terbatas. Sementara isteri mereka juga ikut membantu dalam memenuhi kebutuhan keluarga yaitu sebagai penganyam tikar purun yang sudah mereka lakukan sejak lama. Hasil yang mereka peroleh dari menganyam tikar purun sangat membantu perekonomianmereka selain dapat dijual juga dapat mereka konsumsi sendiri, begitu juga dengan nelayan hasilnya pun juga dapat dijadikan sebagai makanan pokok bagi mereka.

pekerjaan sebagai seorang Nelayan juga merupakan salah satu mata pencaharian yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir yang hidupnya hanya tergantung kepada alam, musim banyaknya hasil tangkapan, peralatan yang mereka gunakan seperti sampan, jaring serta sistem pengetahuan yang mereka miliki tentang cara mereka melaut. Hal tersebut juga terjadi dikarenakan sulitnya bagi mereka mengentaskan kemiskinan yang mereka hadapi ditambah dengan ketidakpedulian pemerintah daerah dengan kehidupan masyarakatnya.

Menurut R. Firth (dalam Kusnadi, 2000:29 – 31) yang menyatakan bahwa kemiskinan nelayan paling tidak di cirikan oleh 5 (lima) karakteristik, yaitu:

  1. Penda patan nelayan bersifat harian (daily increments) dan jumlahnya sulit ditentukan. Selain itu, pendapatannya juga sangat tergantung pada musim dan status nelayan itu sendiri. Dengan pendapatan yang bersifat harian, tidak dapat ditentukan, dan sangat bergantu g kepada musim (khususnya nelayan pandega ) sangat sulit dalam merencanakan penggunaan pendapatannya. Pendapatan yang mereka peroleh menutupi kebutuhan keluarga sehari – hari, bahkan sering tidak mencukupi kebutuhan tersebut.
  2. Dilihat dari pendidikannya, tingkat pendidikan nelayan atau anak – anak nelayan pada umumnya rendah. Kondisi demikian mempersulit mereka dalam memiliki atau memperoleh pekerjaan lain, selain meneruskan pekerjaan orang tuanya sebagai nelayan. Sementara itu, anak – anak nelayan yang berhasil mencapai pendidikan tinggi, maupun sarjana perikanan, enggan berprofesi sebagai nelayan, karena menganggap profesi nelayan sebagai lambing ketidakmampuan.
  3. Dihubungkan dengan sifat produksi yang dihasilkan nelayan, maka nelayan lebih banyak berhubungan dengan ekonomi tukar menukar karena produk tersebut bukan merupakan makanan pokok.
  4. Bidang perikanan membutuhkan investasi cukup besar dan cenderung mengandung resiko yang besar dibandingkan sektor usaha lain. Oleh karena itu, nelayan cenderung menggun akan armada dan peralatan tangkap yang sederhana.
  5. Kehidupan nelayan yang masih miskin juga diliputi oleh kerentanan, misalnya di tunjukkan oleh terbatasnya anggota keluarga yang secara langsung dapat ikut dalam kegiatan produksi dan ketergantungan nelay an yang sangat besar pada satu mata pencaharian, yaitu menangkap ikan. Keluarga nelayan memiliki kebiasaan tidak mengikutsertakan perempuan dan anak – anak dalam penangkapan ikan.